Waktu itu hari Rabu. Seharusnya Rabu adalah hari biasa. Tapi buat Dito, Rabu itu terasa seperti bercandaan semesta. Dari pagi semua serba aneh: dosennya gak muncul di jadwal bimbingan skripsi (lagi-lagi), warung depan kos tutup karena katanya gas abis, dan sore harinya — yang paling menyebalkan — listrik tiba-tiba padam.
Bukan cuma padam sebentar. Tapi padamnya total. Gelap. Sunyi. Dan yang paling ngeselin, tetangga sebelah gak padam. Jadi rasanya bukan PLN yang bermasalah, tapi hidupnya sendiri yang diputus aliran nasibnya.
Di kamar yang cuma diterangi cahaya dari layar HP, Dito rebahan. Gak bisa tidur, gak bisa ngeluh, gak bisa ngeluarin unek-unek ke siapa pun. Grup WA bimbingan sepi. Dosen cuma centang dua. Isi dompet tinggal uang receh plastik. Tapi di notifikasi atas, ada iklan link alternatif yang dulu seriang ia mainkan: jadwal188. Tanpa berpikir dua kali Dito langsung daftar dan login ditengah kegelapan rumahnya.
Dengan sinyal pas-pasan dan kepala yang udah males mikir, Dito buka aplikasinya. Entah karena bosen, entah karena pengen ngerasa hidup. Di layar kecil itu, muncul warna-warna cerah, tombol spin, dan saldo sisa hasil cashback minggu lalu. Cuma cukup buat beberapa kali putaran. Tapi malam itu, Dito nggak butuh banyak.
Dia cuma pengen sesuatu yang menyala. Sesuatu yang bisa dia klik. Sesuatu yang… gak ngecewain kayak janji orang-orang di luar sana.
Spin pertama: kosong.
Spin kedua: kosong juga.
Spin ketiga: ada harapan — dua scatter. Tapi yang ketiga gak datang.
Dia senyum miris. “Mirip kayak nunggu dosen,” gumamnya.
Tapi dia terusin. Sampai spin ke-7 langsung gacor, scatter masuk.
Free spin aktif.
Hati deg-degan. Mata fokus.
Dan… jackpot kecil pun datang. Gak gede. Tapi cukup buat isi pulsa, beli makan besok, dan ngopi sachet yang udah dua hari absen.
Dalam kegelapan kamar itu, HP-nya jadi satu-satunya cahaya. Dan di dalam cahaya itu, ada momen kecil yang bikin dia bisa bilang ke diri sendiri: “Gue belum kalah.”
Jadwal188, malam itu, bukan sekadar situs slot. Tapi jadi tempat di mana dia merasa… masih bisa muter sesuatu. Masih bisa ngatur arah. Masih bisa ngerasain keputusan kecil yang gak digantungin orang lain.
Ketika listrik mati, dan dunia luar kayak bilang “udah, nyerah aja dulu,” ada satu aplikasi yang tetap menyala. Yang gak nuntut pencapaian. Gak peduli IPK. Gak peduli kamu udah lulus atau belum. Cuma bilang: “Klik kalau mau. Gue siap.”
Dan malam itu, Dito klik.
Dunia tetap gelap. Tapi hati gak segelap sebelumnya.
Tinggalkan Balasan